Budaya, News, Politik, Sosial

Bencana Alam dan Gagal Pahamnya Kita

Kegagalau.com – Beberapa waktu lalu terjadi gempa bumi yang menerjang kawasan pesisir Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) ini mengejutkan masyarakat dan menimbulkan korban jiwa dan kerugian di segala lini.  Hasil dampak gempa tercatat ada 14 korban tewas dan 1.000 rumah mengalami kerusakan akibat musibah ini hingga hari minggu (29 Juli 2018).1 Bahkan, kemungkinan korban jiwa akan bertambah seiring dengan laporan yang masuk kepada otoritas setempat pasca terjadinya gempa. Tidak hanya itu, dampak gempa tersebut juga merenggut korban yang sedang mendaki Gunung Rinjani. Para pendaki panik saat gempa mulai menyebabkan material batu di puncak gunung berjatuhan menuju ke arah area perkemahan pendaki.2 Lantas timbul pertanyaan dari peristiwa ini, di mana letak gagal pahamnya kita?

Pertama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan gagal paham (logical fallacy). Namun dari sekian banyak jenis gagal paham yang dirumuskan dalam ranah keilmuan, yang sering digunakan adalah Propter Hoc atau Post Hoc. Post Hoc diambil dari bahasa latin yang berarti sebuah kesesatan logis yang menyatakan bahwa sejak peristiwa Y mengikuti peristiwa X, peristiwa Y pasti disebabkan oleh peristiwa X (Damer, T Edward, 1995).

Dapat dilihat di beberapa platform media sosial yang mengaitkan kejadian gempa bumi Lombok itu dengan sikap politik yang dipilih oleh Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) yang mendukung Presiden Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 mendatang sebagai sebuah azab. “Cocoklogi” seperti ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu bahkan sempat viral video ikan pari yang dideskripsikan sebagai anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya atau soal mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dicibir mengenai banjir yang masih terjadi pasca pernyataan beliau mengenai sistem drainase Jakarta yang mampu mengatasi persoalan banjir ketika musim hujan, dan masih banyak lainnya.

Ironisnya, semakin hari justru masih banyak masyarakat yang sepakat untuk melestarikan aktivitas gagal paham tersebut. Baik dalam bentuk komentar, memproduksi kembali, meneruskan, dan lain sebagainya. Tentu saja latar belakang dari tindakan tersebut merupakan manifestasi dari kesepakatan pikiran dalam mencerna sebuah satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Masyarakat dipuaskan hasratnya dengan gimmick yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari tingkat intelektual yang rendah, ketersediaan informasi yang tidak jelas, bahkan tidak sedikit yang disebabkan oleh faktor yang ideologis (terutama gagal paham untuk mengaminkan tindakan teror). Akibatnya, masyarakat menjadi sulit untuk berfikir rasional dan realistis dalam merespon suatu fenomena dengan fenomena yang lain. Apalagi, sosial media juga mempercepat proses gagal paham tersebut dengan cepat dan murah sehingga dampak yang dirasakan masyarakat juga berpotensi semakin masif dan meluas. Hal ini dapat bermuara kepada pembiasaan gagal paham sebagai rutinitas dari masyarakat yang membuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi rendah.

Dengan dampak yang sangat buruk ini, aparat kepolisian, seluruh lembaga hukum, dan masyarakat dapat lebih giat meringkus produsen kebodohan tersebut melalui instrumen hukum. Hal tersebut dapat  ditempuh melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), maupun pasal-pasal lain yang menyangkut ilegalitas kegiatan pembodohan publik. Ada efek jera bagi pelaku dan pembelajaran bagi orang-orang yang sedang atau hendak melakukan tindakan jahat tersebut. Sehingga, kegiatan post hoc tidak dianggap sebagai hal yang biasa dan menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia yang dianggap politikus sebagai masyarakat cerdas.

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

2 tanggapan untuk “Bencana Alam dan Gagal Pahamnya Kita”

  1. “sosial media juga mempercepat proses gagal paham” setuju untuk yang ini. kadang banyak yang termakan berita hoax dan ironisnya justru viral dan dipercaya kalau hal tersebut benar.
    ah entahlah,

  2. kita sebenarnya blm siap masuk k era teknologi informasi, tp sdh keduluan masuk k era teknologi informasi, Kita bangsa yg kehilangan satu generasi, generasi pijakan yaitu generasi baca…. Krna itu budaya membaca kita buruk sekali, seperti yg diungkapkan dlm tulisan di atas…salam kenal mas…. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s