Budaya, Lifestyle, News, Sosial

Minat Baca Rendah, Sasaran Empuk Berita Hoax

Kegagalau.comIndonesia sedang dilanda banyak penggiringan isu yang menyita perhatian publik hingga menjadi bahan obrolan di masyarakat. Publik ramai membahas isu tentang pemilihan presiden 2019, divestasi saham PT. Freeport, sampai Asian Games 2018. Isu-isu tersebut membuat masyarakat saling tuding, dan terjadi perdebatan hebat. Tidak sedikit akun-akun media sosial yang konsisten menyajikan isu-isu dengan pendekatan hoax. Namun, ada satu hal yang sangat menggelitik dan membuat kita sebagai masyarakat harus melakukan introspeksi diri.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).1 Tidak hanya itu, buku-buku yang diminati masyarakat pun masih seputar jenis buku fiksi, novel, buku religi, dan jenis buku hiburan yang lain. Masyarakat yang cenderung lebih menyukai buku non-ilmiah lebih buruk dari masyarakat yang lebih memiliki minat buku ilmiah. Namun, buku ilmiah maupun non-ilmiah memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan pemikiran manusia.

Ellis (1997) menyebutkan bahwa pemahaman bacaan sebagai kerja kognitif melibatkan seperangkat proses kompleks, meliputi pengolahan konsep-konsep di dalam memori yang sedang bekerja, membuat kesimpulan-kesimpulan, serta skematisasi intisari bacaan. Sayangnya, Ellis dkk. tidak spesifik membahas bagaimana proses-proses itu terjadi. Menurut sebuah buletin dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditulis oleh Sutarimah Ampuni (1998) dengan judul “Proses Kognitif Dalam Pemahaman Bacaan”, memuat teori mengenai keterkaitan materi yang dibaca manusia dengan pengetahuan yang ia miliki. Penjelasan yang lebih spesifik mengenai proses kognitif pemahaman bacaan ini diberikan oleh Mayer, seorang psikolog yang banyak melakukan penelitian tentang hal ini. Mayer (1989) juga berpendapat bahwa pemahaman bacaan melibatkan banyak kerja kognitif. Menurutnya, setidaknya ada tiga kerja kognitif utama pada proses pemahaman bacaan. Ketiganya adalah: a) menyeleksi informasi-informasi yang sesuai dengan kebutuhan; b) membangun hubungan internal, yaitu hubungan antara ide yang satu dengan ide yang lain di dalam bacaan; c) membangun hubungan antara informasi yang terkandung di dalam bacaan itu dengan informasi yang selama ini telah dimilikinya.

Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses membaca terjadi proses menyeleksi informasi-informasi yang sesuai dengan kebutuhan dalam otak manusia. Namun hal yang ingin digarisbawahi dalam artikel ini adalah ketika manusia tersebut lebih tertarik pada bahan bacaan yang sifatnya non-ilmiah daripada ilmiah, maka ia telah memutuskan bahwa jenis buku tersebut termasuk dalam skema kebutuhan hidup yang dimilikinya. Akibatnya, transfer pengetahuan (knowledge transfer) juga tidak akan jauh dari hal-hal yang sifatnya non-ilmiah.

Menurut Menteri Koordinator (Menko) bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, segala hal yang mempengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia adalah ketidakmerataan ketersediaan buku baca di kawasan terpencil dan kehadiran akses internet di perkotaan.2 Khusus bagi masyarakat perkotaan, akses internet memiliki andil besar dalam menurunkan minat baca karena internet lebih murah, dan tingkat aksesibilitasnya jauh melampaui buku. Akan tetapi, perlu diingat bahwa internet bukanlah pihak yang memberikan suatu informasi secara komprehensif. Situs (website) yang lebih sering diakses oleh masyarakat Indonesia didominasi oleh media sosial, meskipun yang terbesar adalah website mesin pencari.3 Sehingga internet juga belum mampu memberikan inovasi dalam meningkatkan budaya baca.

Jelas data-data tersebut sangat memalukan bagi masyarakat yang sedang mengalami bonus demografi. Generasi muda juga belum memberikan signifikansi terhadap perbaikan kualitas baca di Indonesia. Penggiringan opini dari mereka yang memiliki kepentingan akan sangat mudah dilakukan, karena masyarakat yang rendah minat bacanya akan lebih mudah untuk dimanipulasi dengan pendekatan dialog atau dicekoki dengan media yang lebih diminati masyarakat seperti video dan gambar. Tidak heran jika di Indonesia sangat banyak ditemukan hoax. Selain karena mudah diserap publik, hoax juga sudah menjadi komoditas yang menggiurkan dan mampu mendatangkan uang seperti Saracen.4

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

2 tanggapan untuk “Minat Baca Rendah, Sasaran Empuk Berita Hoax”

  1. Btul skli, sasaran empuk hoax adlh org2 yg minat bacanya rendah.

    Mmbca itu pnting bnget, krn itu kita prlu menghimbau generasi kita utk gmar membaca. Hnya sj sy rada kesal, krn tdk jarang org2 pnting, para elit politik, guru2 dan org tua tdk bs jd contoh yg baik dlm hal membaca, dan pola itu will go down. Tdk sdikit dr mreka yg justru malas membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s