News

Danau Toba dan Sederet Tragedi yang Ditinggalkan

Kegagalau.com – Keluarga korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun mendapat pernyataan pemerintah bahwa kegiatan upaya pencarian dan evakuasi korban dihentikan dan hanya dilakukan upaya pemantauan oleh otoritas. Pemerintah juga akan membangun sebuah monumen peringatan untuk memudahkan keluarga korban maupun masyarakat yang hendak berziarah dan mengekspresikan rasa dukanya kepada korban. Kemudian, pemerintah melalui Kementerian Sosial memberikan santunan dengan besaran 2.5 juta rupiah untuk korban selamat, dan 15 juta rupiah untuk keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya.1  Santunan ini belum termasuk yang diterima dari PT. Jasa Raharja jika perusahaan asuransi kecelakaan lalu lintas plat merah tersebut benar memberikan santunan kepada korban selamat, korban tewas, maupun korban yang sampai saat ini masih tenggelam di Danau Toba.2 Bahkan pemerintah juga berencana menanggung biaya pendidikan anak korban. Hal ini ditegaskan oleh Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan saat mengumumkan penghentian pencarian keluarga korban.3

Di saat pemerintah memberikan alternatif pemecahan masalah kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, ada masyarakat yang mengaku sebagai perwakilan korban memotong pidato Menko Luhut. Orang tersebut ternyata adalah seniman nasional, Ratna Sarumpaet. Adu mulut terjadi antara Menko Kemaritiman dan Ratna, lalu dipotong oleh keluarga korban yang tidak terima atas perkataan Ratna yang terkesan menyudutkan pemerintah. Ratna menyerukan agar proses evakuasi korban baru dapat dihentikan setelah seluruh mayat keluarga korban diangkat.4

Sebenarnya terdapat beberapa tragedi kecelakaan maupun bencana alam yang diselesaikan seperti yang dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan kasus tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba. Kasus seperti jatuhnya pesawat Adam Air 574 di perairan Sulawesi pada tahun 2008, kasus jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH370 pada Maret 2014, KMP Tampomas II pada tahun 1981, dan masih banyak lagi. Namun kecelakaan kapal penyeberangan di danau adalah peristiwa yang jarang terjadi karena tidak banyak danau yang digunakan sebagai jalur penyeberangan reguler. Bahkan, kejadian tenggelamnya kapal di danau-danau yang besar terjadi berpuluh-puluh tahun silam dan sudah ditinggalkan karena memiliki resiko keselamatan yang tinggi.5 Mulai dari kesulitan evakuasi karena medan yang harus ditempuh untuk menghadirkan kapal pengangkat yang besar di danau, permukaan dasar danau yang tidak stabil (terutama danau tektovulkanik atau danau yang terbentuk karena kaldera), hingga suhu dasar danau yang sangat rendah yang membuat jenazah korban tidak dapat mengapung.

Resiko ini juga berlaku pada tragedi tenggelamnya kapal di Danau Toba. Maka layanan pelayaran di sebuah danau harus sangat ketat dan sistematis untuk mengurangi resiko-resiko yang ada. Kejadian ini merupakan teguran keras bagi otoritas setempat dan pelaku usaha pelayaran di Danau Toba. Mengingat jumlah korban yang sangat banyak, tidak heran jika banyak pihak menyayangkan tragedi tersebut hingga menuntut Kementerian Perhubungan, Pemerintah Daerah (Pemda) terkait untuk melakukan evaluasi besar-besaran dalam kebijakan pelayaran di Danau Toba yang berlaku selama ini. Sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan memakan banyak korban jiwa. Bahkan, jika mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk proses pencarian dan evakuasi tidaklah sedikit. Hal ini belum termasuk waktu dan tenaga yang harus tercurah dengan hasil yang sesungguhnya sangat menyedihkan bagi seluruh pihak karena kesulitan yang ditemukan tim SAR dan lain-lain.

Bahkan, di negara adidaya seperti Amerika Serikat saja sudah tidak lagi menggunakan transportasi kapal untuk mengangkut penumpang di danau sejak awal tahun 2000-an.6 Bahkan spesifikasi kapal yang digunakan adalah kapal pesiar besar seperti kapal pelayaran yang ada di laut. Maka dari itu, dengan segala resikonya, kebijakan yang diambil untuk mempertahankan jalur penyeberangan di danau harus mengedepankan pendekatan pencegahan adalah harga mati. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi khawatir dengan aspek keselamatan penyeberangan air di manapun dalam Republik Indonesia yang tercinta ini.

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s