News, Politik, Sosial

Kejanggalan Suasana Jalan Tol Jokowi

Kegagalau.comAda sesuatu yang agak janggal dalam perjalanan para pemudik tahun ini di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tidak ada kemacetan berarti, kesemrawutan lalu lintas, bahkan antrean jalan tol yang merenggut korban jiwa seperti yang terjadi pada tahun 2015 silam.1 Fenomena ini tidak disia-siakan oleh para pegiat media sosial untuk mengabadikan momen, baik untuk mengapresiasi kinerja Presiden Jokowi, maupun nyinyir dengan gerakan-gerakan skeptis tentang pembiayaan pembangunan dan pemberlakuan tarif jalan tol yang kurang merakyat. Perang argumen pun terjadi melalui spanduk di jalur-jalur yang dilalui oleh para pemudik yang hendak pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga.

Sentimen-sentimen kontra-produktif ini menghasilkan opini-opini yang kurang bermutu, seperti spanduk yang bertuliskan “Tol Jokowi”, dan “Klakson 3 kali jika tetap mendukung #2019GantiPresiden” yang tidak berkaitan dengan kelancaran arus mudik. Bahkan sebenarnya spanduk-spanduk tersebut membuat citra buruk masyarakat Indonesia yang sangat mudah dikotak-kotakkan untuk mengaitkan apapun dengan politik praktis. Padahal dalam suasana yang baik ini, para pemudik masih harus menempuh perjalanan jarak jauh dan tidak sedikit yang masih melaksanakan ibadah puasa. Memasuki tahun-tahun politik ini seakan tidak ada lagi bagian dari publik yang bebas dari campur tangan politik praktis maupun pragmatis, baik mereka yang mendukung Jokowi, maupun mereka yang ingin ganti presiden.

Politik praktis yang kelebihan dosis semacam ini dapat menjadi bumerang bagi kelangsungan demokrasi di Indonesia. Dampak yang paling terasa adalah dampak psikologis berkepanjangan di kalangan pemilih bahkan hingga pemilihan tersebut usai. Hal ini tidak menutup kemungkinan melahirkan konflik dan sangat dikhawatirkan oleh banyak pihak.2 Ketidakdewasaan politik dilakukan oleh segelintir pelaku politik yang secara konsisten melakukan provokasi, silang pendapat yang kurang sehat, dan cenderung berlandaskan sentimen pribadi terhadap pemikiran maupun sifat tokoh yang dijadikan lawan politik. Karena politik sehatlah kita akan mendapatkan pemimpin yang sehat pula.3

Momen lebaran adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru hasil introspeksi mendalam pada seluruh pelaku politik di Indonesia. Mengurangi tudingan, memperkaya argumen dengan data dan fakta, serta membiasakan debat dengan mengadu program tanpa embel-embel yang tidak berguna adalah hal yang baik untuk dilakukan. Maka, masyarakat tidak menjadi takut untuk mengumandangkan dukungannya terhadap tokoh politik yang ia yakini.

Partisipasi pemilih meningkat dikarenakan pendidikan politik yang variatif dan substansial dalam membangun negara maupun daerah. Anak-anak bangsa tidak dilukai keyakinannya terhadap bangsa yang demokratis ini, karena agama tidak menjadi basis yang memecah-belah masyarakat. Agama membawa pengaruh positif dalam kegiatan politik yang beradab. Maka dari itu, jalan tol atau hasil pembangunan lainnya oleh pemerintah tidak lagi dilihat sebagai prestasi kelompok. Tetapi prestasi seluruh anak bangsa. Toh juga jalan tol dan infrastruktur lainnya dibayar dengan uang rakyat melalui pajak, bukan? Kalaupun ada pembangunan yang sifatnya visioner, cukup disyukuri sebagai political will pemimpin dalam mengambil keputusan pembangunan tersebut, tidak lebih. Negara damai, rakyat cerdas, dan Indonesia menjadi negara bangsa yang hebat dan berkemajuan dalam peradaban.

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

4 tanggapan untuk “Kejanggalan Suasana Jalan Tol Jokowi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s