Lingkungan, News

Kebijakan Zonasi Pembangunan Kota di Indonesia

Kegagalau.com – Kota merupakan suatu wilayah dengan luasan yang relatif di mana pada era modern saat ini menjadi pusat peradaban manusia maupun tempat terbaik untuk mengakomodir kebutuhan manusia zaman sekarang yang kompleks itu. Kota-kota besar baik di Indonesia maupun di dunia tentu saja tidak muncul begitu saja dengan berbagai keindahan dan dinamika yang mewarnai kehidupan dan peradaban kota tersebut. Secara garis besar, dan dikutip dari permainan Simcity, kota terbagi atas 3 area/zona utama, yaitu area pemukiman, area komersial, dan area industri. Meskipun begitu, suatu kota juga memiliki beberapa aspek penting seperti kantor-kantor pemerintah, sekolah, tempat ibadah, kantor PLN, kantor PDAM/PAM, taman (ruang terbuka hijau), dan sebagainya. Ada pula aspek-aspek lain yang tidak kalah penting menyangkut keamanan kota seperti markas polisi, markas militer, maupun markas ormas. Semua itu masuk ke dalam rencana zonasi pembangunan kota.

Mengapa harus direncanakan? Karena banyak aspek yang harus diperhatikan dalam membangun maupun mengarahkan sebuah kota menuju kota yang maju dan mampu memenuhi kebutuhan warganya. Zonasi pembangunan kota harus direncanakan karena manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan.

Menurut jurnal Panduan Internasional Tentang Perencanaan Kota dan Wilayah yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 menyatakan bahwa perencanaan kota dan wilayah adalah suatu proses pengambilan keputusan untuk mewujudkan tujuan-tujuan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup melalui pengembangan visi tata ruang, strategi, rencana, dan penerapan seperangkat prinsip-prinsip kebijakan, alat-alat, mekanisme partisipatif kelembagaan, dan prosedur pengaturan. Hal ini menunjukkan seberapa vital sebuah kebijakan perencanaan tata ruang/kebijakan zonasi pembangunan kota. Pemerintah kota dalam kurun waktu tertentu (jika di Indonesia kebijakan ini termasuk kedalam rencana pembangunan jangka panjang yang berlaku 25-30 tahun) harus mampu merancang suatu kebijakan tentang penataan kota dengan visioner dan dengan perhitungan melalui teknik peramalan (forecasting) yang baik. Hal yang lebih menantang dalam kebijakan ini adalah tidak boleh dilibatkannya dukun dalam proses meramal tata ruang kota, melainkan para ahli, baik di bidang saintek maupun soshum yang sama-sama kita ketahui bahwa mereka tidak cukup hanya disuguhi kemenyan dan amplop berisi uang seikhlasnya dalam menyusun rencana tersebut bersama pemerintah.

Beberapa kota dengan rencana tata ruang yang paling mutahir pada zamannya tercatat dalam sejarah sukses dan kemudian menjadi resiko yang sering menimbulkan bencana bagi kota itu sendiri. Seperti contohnya Venesia (Italia) yang membuat perencanaan kota dengan membangun kanal kemudian dipisahkan secara tegas zonasi kegiatan masyarakat (pemukiman, pusat ekonomi, dan sebagainya) serta menitikberatkan mobilitas warga dengan transportasi air. Rencana tersebut terbukti manjur untuk mengurangi dampak banjir untuk beberapa dekade. Namun, hari ini Venesia mengalami permasalahan tata kelola air yang sulit. Kanal yang sudah terlampau tua dan sulit untuk diremajakan menjadi sebab sulitnya kota ini untuk mampu menyelesaikan masalah. Ditambah lagi dengan persoalan pengelolaan sampah yang membuat aliran air menjadi tersendat di kanal-kanal seluruh kota. Tidak heran jika ada penelitian yang memprediksi Venesia akan tenggelam.¹ Atau banyak kota-kota lain di Eropa, khususnya kota yang sudah berdiri sejak seribu atau dua ribu tahun yang lalu, yakni masalah lahan untuk dijadikan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Tidak heran kota-kota tersebut memanfaatkan ruang bawah tanah atau layanan kremasi sebagai solusi, meskipun biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.

Jika berbicara kota-kota di Indonesia, rata-rata masalahnya mirip, seperti kemacetan, polusi, banjir. Sampai saat ini, pemerintah belum optimal dalam penerapan kebijakan zonasi pembangunan kota di Indonesia yang baik dan berlandaskan pembangunan holistik (menyeluruh/bisa juga dikatakan berkelanjutan).

Back to Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

Satu tanggapan untuk “Kebijakan Zonasi Pembangunan Kota di Indonesia”

  1. Semoga pembangunan di Indonesia lebih baik lagi sih kedepannya.
    Tapi kalo aku lihat sih sekarang pemerintah udah gak hanya mikirin pusat aja, daerah2 sampai Papua pun lebih diperhatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s