Budaya, Kesehatan, Lingkungan, News

Bangga Lestarikan Buang Sampah Sembarangan

Kegagalau.com – Kebiasaan buruk sulit diubah jika sudah menjadi “budaya”. Apa yang kita tahu soal kebudayaan? Dikutip dari Wikipedia, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari bahasa latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Mari keluar sejenak dari pengertian kebudayaan. Slogan ‘Buanglah sampah pada tempatnya’ dan ‘Dilarang buang sampah sembarangan’ sudah menjadi slogan yang sangat tidak asing di telinga. Lalu apa yang menyebabkan kondisi ini semakin kronis, bahkan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap perilaku masyarakat?

Anwar Effendi mengatakan bahwa tingkat pencemaran lingkungan sangat memprihatinkan.¹ Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa total sampah di Indonesia mencapai 187,2 Juta ton per tahun. Meningkatnya angka kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan untuk menampung sisa konsumsi menjadi salah satu faktor penyebab volume sampah yang terus menggunung. Bayangkan saja jika sampah 187,2 ton tersebut adalah sampah yang berakhir ke tempat pembuangan akhir. Berapa banyak lagi jumlah sampah lainnya yang masih berada tidak pada tempatnya?

Bukan kali ini saja fenomena buang sampah sembarangan terlihat dengan kasat. Tidak sedikit yang membuang sampah di pinggir jalan, di sungai, dan di laut. Hal sesederhana membuang sampah sembarangan bisa berpengaruh ke mana saja. Sampah yang dibuang sembarangan jika dilakukan terus menerus, tentunya akan menyebabkan pendangkalan/penyumbatan aliran sungai dan mencemari udara sekitar lingkungan. Aliran sungai menjadi tidak lancar dan akhirnya menyebabkan banjir. Sampah yang terkumpul tanpa ada tindak lanjut akan mengalami pembusukan dan menjadi sarang penyakit. Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat timbunan sampah adalah demam berdarah, diare, gatal-gatal, dan lain-lain.

Berbicara tentang keadilan, tentu ada sebab dan akibat. Larangan tentang membuang sampah ini sebenarnya sudah diatur pada peraturan daerah nomor 3 tahun 2013 tentang pengelolaan sampah. Pasal 126 poin H tertulis bahwa setiap orang dilarang membuang sampah dari kendaraan. Lalu pasal 130 poin C juga disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja atau terbukti membuang sampah dari kendaraan, dikenakan uang paksa paling banyak Rp.500.000,00.² Namun nyatanya, tetap saja perilaku masyarakat Indonesia masih sulit untuk diubah.

Budaya membuang sampah sembarangan adalah ‘karakter’ yang sulit diubah. Hal yang sederhana bisa diatasi dengan hal yang kecil, seperti menyimpan sampah di mobil setelah makan sampai menemukan tempat sampah terdekat, atau bisa saja dengan tempat sampah kecil khusus mobil yang sudah banyak dijual di mana saja. Pada kasus lain di angkutan umum atau mungkin di jalanan, kita bisa saja menyimpannya terlebih dahulu di dalam tas dan membuangnya jika sudah menemukan tempat pembuangan sampah terdekat. Tidak ada tong sampah terdekat bukanlah menjadi alasan untuk membuang sampah sembarangan.

Pada akhirnya, keadilan bagi seluruh sampah adalah tempat sampah itu sendiri. Bahkan untuk mempermudah masyarakat, beberapa lokasi sudah menyediakan tempat pembuangan sampah yang berbeda, organik dan bukan-organik. Banyak kemudahan yang sebenarnya sudah diberikan kepada masyarakat dan diusahakan oleh yang berwenang. Perubahan tidak pernah terlambat jika dimulai lagi dari hari ini. Lakukan yang benar walau tidak ada yang melihat. Memberikan dampak baik bukan saja untuk diri sendiri atau orang sekitar, tapi juga terhadap lingkungan. Lingkungan adalah bagian dari bumi tempat berpijak. Mencemari lingkungan sama saja dengan mencemari diri sendiri. Kalimat ‘Buanglah sampah pada tempatnya’ tidak seharusnya menjadi slogan belaka. Mari akhiri dengan sebuah pergerakan yang nyata.

Back To Home

Ditulis oleh : Dhian Lydia
Disunting oleh : Reza Pahlevi

3 tanggapan untuk “Bangga Lestarikan Buang Sampah Sembarangan”

  1. Yang bikin miris, biasanya perumahan di pinggiran kota. Kita sudah membayar retribusi sampah, kita pun buang sampah pada tempatnya. Tapi sayang truk sampah Pemda tidak menjangkau tempat kita. Kita pun iuran membayar tukang sampah untuk mengangkut sampah ke TPS. Tapi TPS nya ternyata di pinggir sungai dan jarang/tidak pernah diangkut ke TPA. Akhirnya sungai jari kotor dan tercemar tak terkendali.
    Kayanya harus bikin gerakan mengelola sampah sendiri.

  2. Yg buang sampah dari mobil itu paling parah menurutku, kalo sekarang masih ada ya kebangetan, sempat lihat video viral oknum buang sampah dari mobil waktu macet, trus pengemudi di belakang turun ambil sampah lalu ketok kaca, balikin sampahnya, harusnya ada org kaya gitu banyak di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s