Budaya, Sosial

(Bukan) Feminisme Solusinya

Kegagalau.com – Bulan Maret, khalayak dibuat takjub oleh kelompok-kelompok perempuan yang tiba-tiba turun ke jalan dalam rangka merayakan Women March Day. Peringatan yang jatuh pada tanggal 8 Maret setiap tahun-nya ini dimaknai oleh kaum perempuan zaman sekarang sebagai momentum buka suara untuk menyuarakan kesetaraan, kritik sosial terhadap perilaku patriarki, dan hal-hal yang bersifat tidak populer yang menyudutkan kaum perempuan lainnya. Tidak sedikit juga ditemukan tulisan yang menyuarakan pembelaan terhadap kelompok minoritas yang dimarjinalkan.

Indonesia juga tidak mau ketinggalan. Berpusat di Jakarta, kaum perempuan turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan yang hampir sama. Kepada siapa? Entahlah, mereka yang tahu. Tetapi, sebelum membahas lebih jauh mengenai keterkaitan feminisme, Women March Day, dan tuntutan-tuntutan tadi, ada baiknya untuk mengetahui darimana mulanya istilah Women March Day tersebut.

Awalnya, banyak spekulasi mengenai tanggal pasti serta peristiwa pergerakan besar kaum perempuan yang menyertainya, mulai dari gerakan buruh tekstil perempuan di New York pada tahun 1857.¹ Namun ada pula yang meyakini justru pada tahun 1907 diresmikan menjadi Hari Perempuan Internasional dalam rangka memperingati 50 tahun peristiwa demonstrasi buruh perempuan tekstil New York yang pada saat itu memperjuangkan kelayakan upah buruh (baik laki-laki maupun perempuan). Namun, gerakan perempuan paling berpengaruh dalam sejarah yang kebetulan terjadi di tanggal yang sama adalah gelombang demonstrasi besar-besaran oleh kaum perempuan di kota Petrograd atau lebih dikenal dengan nama St. Petersburg pada tahun 1917. Tuntutan pada saat itu tidak tanggung-tanggung dan berbuah revolusi yang mengubah sejarah Kekaisaran Rusia untuk selamanya. Demonstrasi yang digerakkan oleh kaum buruh perempuan pada saat itu menuntut untuk diakhirinya perang dan perlawanan tehadap praktik kapitalisme yang menyengsarakan buruh. Tidak tanggung-tanggung, gerakan tersebut digerakkan oleh kesadaran kolektif secara berkelompok dan efektif. Kelompok buruh perempuan Petrograd menjadi pemantik gelombang kekuatan rakyat yang lebih besar lagi hingga terjadi aksi mogok kerja besar-besaran yang melumpuhkan kota dan pemerintahan. Bahkan, Kekaisaran Tsar yang dikenal sebagai rezim diktator dan represif tumbang.² Disebabkan siapa? Kelompok buruh perempuan Petrograd.

Sampai di sini, terdapat benang merah dari perjuangan kaum perempuan dulu, baik secara landasan pergerakan dan tuntutan, yaitu perasaan senasib sepenanggungan kelompok buruh dalam sistem kapitalisme yang menyengsarakan. Artinya, sejak awal tidak terdapat isu gender maupun isu-isu primordial dan patriarki yang menjadi tuntutan di masa sekarang yang bagi sebagian kalangan merasa bahwa gerakan kaum perempuan sudah tidak mengikuti jati dirinya sebagai gerakan universal yang bertujuan merangkum kebutuhan yang tidak berdasarkan perbedaan gender maupun orientasi seksual dengan embel-embel feminisme.

Padahal feminisme sendiri yang populer sekitar abad ke-20 juga lahir dengan semangat yang mirip dengan gerakan perempuan New York dan St. Petersburg, yakni perjuangan perempuan untuk tidak dimarjinalkan dalam sistem ekonomi, terutama dalam hal sistem pengupahan.3 Adapun tuntutan terhadap sistem sosial dan budaya seperti budaya patriarki dan budaya primordial juga masih logis dan sesuai dengan prinsip universal yang memposisikan laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan dan perlakuan yang sama, seperti akses pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan sebagainya. Meskipun begitu, tuntutan-tuntutan masa lalu tersebut pada saat sekarang sangat diterima dengan baik oleh masyarakat umum terutama di negara-negara barat. Bahkan, tidak lagi menjadi suatu pandangan asing jika pekerjaan-pekerjaan yang awalnya dianggap sebagai “jatah” laki-laki seperti hakim, pejabat pemerintahan, tenaga pengajar, dan sebagainya, perempuan juga sudah ambil bagian secara objektif. Bahkan, Indonesia sebenarnya juga tidak asing dengan keikutsertaan perempuan dalam pemerintahan yang di negara-negara barat belum pernah terjadi, yaitu presiden dari kaum perempuan. Artinya, baik laki-laki dan perempuan pada peradaban yang sama memiliki kesempatan yang sama dalam ruang-ruang objektif.

Namun, gerakan perempuan yang menggunakan platform Hari Perempuan Internasional seperti tidak mendapat evaluasi sama sekali. Banyak gejala yang mengindikasikan bahwa gerakan perempuan hari ini semakin jauh dari jati diri pergerakan itu sendiri. Salah satu yang paling kentara adalah tidak lagi dipantiknya gerakan pada Hari Perempuan Internasional oleh kelompok-kelompok buruh perempuan yang memperjuangkan hak buruh, melainkan kaum milenial dan kelompok perempuan kelas menengah dan ke atas yang secara ekonomi cenderung baik namun tidak mampu adaptif secara sosial. Tidak mampu adaptif secara sosial artinya tidak mampu memposisikan diri secara objektif dengan keadaan sosial. Misalnya, banyak sekali protes mengenai “budaya catcalling” yang bahkan dianggap sebagai pelecehan. Wajar saja catcalling banyak terjadi apalagi di Indonesia ketika masyarakat milenial termasuk perempuan berkiblat secara perawakan ke Barat. Namun, secara literasi berkiblat ke masa pra sejarah. Maksudnya, kaum sekarang terlalu siap untuk berpenampilan modis dan modern namun teledor untuk mengejar ketertinggalan wawasan dan adab universal. Bahkan, kritik ini juga berlaku pada kaum perempuan itu sendiri. Jika boleh jujur, banyak juga laki-laki yang depresi karena mendapat stigma untuk menjadi yang terdepan dalam romansa dan disuguhi setumpuk beban perawakan yang harus “enak dipandang”, sementara bagi mereka yang hanya mampu mengisi diri dengan pengetahuan tidak sedikit yang hidup melajang atau kesulitan untuk mendapat pasangan. Belum lagi jika berbicara mengenai kesadaran kelompok perempuan itu sendiri mengenai kelompok perempuan mana yang mereka bela. Kelompok perempuan yang termarjinalkan secara ekonomi? Atau kelompok perempuan yang tidak mampu adaptif pada sosial.

Berangkat dari situlah seharusnya ruang-ruang diskusi disesaki kelompok perempuan yang pada Women March Day turun ke jalan dan hari-hari selanjutnya berserikat di pusat-pusat perbelanjaan, dan pojok-pojok borjuisme, sehingga perempuan-perempuan populis yang memiliki kapital ini dapat sedikit dipantik menjadi terpelajar pemikirannya. Kesadaran seperti kesetaraan gender adalah kekeliruan, melainkan kesepakatan untuk menghargai perbedaan baik dari sisi hak dan kewajiban, mampu adaptif dalam tatanan sosial dengan ikut menggali sumur pengetahuan yang berkemajuan, dan lain sebagainya.

Dan pada akhirnya, ingatlah nasihat Soe Hok Gie yang mengatakan, “Perempuan akan selalu di bawah laki-laki, kalau yang diurisi hanya baju dan kecantikan.”

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

4 tanggapan untuk “(Bukan) Feminisme Solusinya”

  1. Tapi kalo mau dilihat, kebanyakan perempuan jaman sekarang yang diurusi hanya baju dan kecantikan.
    Walau emang ada beberapa diantaranya karena tuntutan pekerjaan.
    Kalo gak cantik dan gak modis gak bakalan diterima kerja –“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s