News, Sosial

Jangan Memilih Pemimpin “Anu”

Kegagalau.com – Indonesia sedang memasuki tahun politik terpanas sepanjang sejarah perpolitikan nasionalnya. Tercatat setidaknya terdapat 171 daerah meliputi 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota yang akan bertarung pada tanggal 27 Juni 2018.¹ Bahkan, hasil Pemilukada tahun ini adalah bekal bagi partai-partai politik sebelum bersaing pada pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pada tahun 2019 mendatang. Maka dari itu, partai-partai politik sudah mulai berlomba untuk memenangkan hati masyarakat.

Namun, sering masyarakat awam disuguhi jargon-jargon diskriminasi. Baik dengan pendekatan transendental maupun pendekatan yang cenderung rasional. Akan tetapi, yang lebih menjual adalah jargon-jargon transendental, terutama sentimen atas dasar agama seperti yang terjadi di DKI Jakarta. Bahkan, sangat banyak pemuka-pemuka agama yang seakan-akan menjadi juru kampanye dadakan dalam kontestasi pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Kemudian, timbul pertanyaan apakah cara politik seperti itu termasuk cara politik yang sehat? Metode pendekatan politik seperti itu sah-sah saja, selama menggunakan pendekatan yang rasional. Rasional berarti pendekatan yang mendukung akal sehat. Sehingga, metode pendekatan politik tidak menimbulkan kegagalan peradaban dan menimbulkan kegagalau bagi generasi yang akan datang mengenai kualitas generasi yang diharapkan dapat membawa angin perubahan bagi kemajuan peradaban suatu bangsa.

Metode pendekatan politik harus dilakukan dengan cara dialog kepada masyarakat dengan menggunakan pendekatan/jargon yang tidak bersifat khayalan atau delusional. Sehingga, Segala hal yang dijanjikan kepada masyarakat adalah hal-hal yang akan menjawab kebutuhan masyarakat. Maka, Jargon-jargon politik yang menggunakan pendekatan transendental sudah seharusnya tidak digunakan lagi. Apalagi jika kita sebagai negara sepakat bahwa hal-hal yang besifat SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) bukanlah hal yang harus dipelihara. Partai-partai politik juga harus menyadari bahwa dalam momentum pemilu adalah mencari pemimpin publik, bukan pemimpin golongan maupun pemimpin kelompok-kelompok dominan. Sehingga, faktor yang diutamakan adalah faktor yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ketika calon yang bersangkutan mendapat amanah dari masyarakat.

Generasi muda sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab moral untuk membawa angin perubahan bagi perjalanan bangsa ini. Generasi muda juga harus mampu menghentikan praktik-praktik politik yang kurang etis tersebut. Gerakan penyadaran atas tindakan menjual dan mencampur-adukkan agama dengan politik adalah hal yang keliru. Sehingga, masyarakat dapat mengkoreksi dirinya sebagai sebuah bangsa yang majemuk untuk bertanggung jawab menjaga kemajemukan atas dasar keberagaman dan rasa persatuan.

Back To Home

Ditulis oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

9 tanggapan untuk “Jangan Memilih Pemimpin “Anu””

  1. Sayangnya sekarang segala hal berbau politik itu bisa diputar-balikan.
    Makanya bener kalo kita juga harus lebih peduli dan memiliki tanggung jawab moral.
    Biar kedepannya gak makin bobrok ya kak.

  2. Pemilihan yang gubernurnya sudah terpilih, sudah lewat. Saatnya semua komponen masyarakat mensupport terealisinya semua program kerja sang pemimpin terpilih.

    Pemilu dan pemilukada yang akan berlangsung, kepada generasi muda, pilihlah pemilih yang sesuai kapabilitas dan tentunya jg yg membuat adem 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s