Budaya, Sosial

Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Inklusif

Kegagalau.comKetika mendengar istilah bangsa besar, kita akan teringat tentang tanggung jawab yang terasa utopis dan kurang konkret untuk menempuhnya. Istilah seperti menghargai jasa para pahlawan untuk tidak melupakan sejarah, terdengar kurang jelas seperti apa melakukannya dan oleh siapa tanggung jawab itu dijalankan. Pemahaman ini sangat penting untuk meraih cara bagaimana menjadi bangsa yang besar secara praktis.

Hal yang fundamental untuk dipersiapkan adalah pemahaman kita semua untuk membedakan pola pikir sebagai warga negara dan sebagai individu beragama. Patron yang digunakan sebagai tolak ukur keduanya sangat berbeda. Warga negara seharusnya memegang teguh UUD 1945 dan Pancasila, sementara Individu yang memeluk agama cenderung lebih eksklusif (tertutup) dengan perangkat kitab suci beserta aturan turunannya yang terikat pada dogma. Dogma yang dimaksud adalah tidak ada toleransi atas benar dan salah menurut keagamaan. Jika salah berbuah dosa, sementara benar berbuah pahala. Dari pemahaman ini kita bisa memulai untuk memisahkan sisi publik (kenegaraan) dan privat (keagamaan) dalam bermasyarakat. Cukup penting untuk diperhatikan karena kenegaraan dan keagamaan tidak selalu bisa diselaraskan sepenuhnya. Hal ini akan selalu ada tantangan yang “memaksa” untuk menjadikan salah satunya mengalah.

Biasanya, negara yang harus mengalah karena kenegaraan tidak dogmatis. Akan tetapi, pada gilirannya negara akan sibuk pada kegiatan yang kontraproduktif. Apalagi ketika negara dengan sistem politik yang dianutnya dicampuradukkan dengan paham agama. Terjadi pengaburan pandangan, mana kepentingan politik dan mana kepentingan agama. Pengaburan itu yang dapat menjadi pemantik konflik. Apalagi di tengah-tengah masyarakat bhinekka. Kepentingan politik dijalankan atas patron dogma dengan urusan surga dan neraka tersebut menjadi momok konflik saudara dan sudah terjadi di negara-negara lain. Maka dari itu, tidak heran jika Presiden Joko Widodo meminta para pemuka agama untuk mengingatkan para umatnya tentang keragaman yang harus dirawat agar tidak menimbulkan perpecahan.¹

Setelah mampu membedakan sisi privat dan publik, masuklah kita pada perspektif sebagai warga negara dengan sifatnya yang publik. Hubungan dengan negara sendiri pada dasarnya bersifat atributif, yaitu menjadi politik identitas umum bagi warga negara.² Pengakuan atas perbedaan dan seluruh Warga Negara Indonesia, kebebasan berekspresi dan lain-lain, telah diatur dalam UUD 1945. Berarti ada tanggung jawab pemerintah untuk memperlakukan rakyatnya secara setara tanpa perbedaan atau diskriminasi. Masyarakatpun harus mampu mengendurkan kepentingan kelompok maupun individunya untuk kemajuan peradaban. Seperti kebebasan melaksanakan perintah agama masing-masing, berekspresi di muka umum, dan lain sebagainya. Selama hal-hal tersebut tidak melanggar kesepakatan umum, yaitu hukum.

Nilai, norma, dan kearifan lokal tidak harus disingkirkan. Hal-hal lokal seperti ini harus bersedia direvisi demi kemajuan peradaban. Penyebab timbulnya pemicu konflik yang kontraproduktif adalah disebabkan oleh faktor keanekaragaman masyarakat. Tradisi yang baik dan universal dilanjutkan dan tradisi yang buruk ditinggalkan. Jika kiat-kiat ini dilakukan oleh masyarakat di ruang publik, maka kesantunan sebagai bangsa dapat terwujud.

Membiasakan masyarakat untuk mengedepankan kepentingan bersama dan mendidik bangsa untuk mampu meredam arogansi kelompok atas dasar persatuan, akan lebih bijaksana dan beradab daripada sibuk menegaskan dominasi sambil mengedepankan arogansi. Jika kita mampu, negara kita akan jauh lebih baik daripada saat ini. Pun, harapan para pahlawan agar adanya negara bangsa yang saling menghormati dan menghargai dalam persatuan akan terwujud. Sehingga, di kemudian hari akan sampai kita pada tingkat sebuah bangsa yang besar.

Ditulis Oleh : Deddy Hutapea
Disunting oleh : Reza Pahlevi

2 tanggapan untuk “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Inklusif”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s