Budaya, Sosial

Lestarikan Budaya Korupsi Sejak Dini!

Kegagalau.com – Indonesia termasuk sebagai daerah merah untuk kategori negara “ramah” korupsi di dunia. Hampir seluruh masyarakat Indonesia sepakat untuk mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi budaya Indonesia. Namun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia sangat tidak setuju jika Korupsi dikatakan sebagai salah satu budaya Indonesia. Apakah benar korupsi adalah budaya oleh para ahli?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dari definisi tersebut, memang tidak ada berkaitan dengan budaya. Hal ini karena korupsi di KBBI didefinisikan secara harfiah. Namun, bagaimana pengertian budaya menurut pandangan ahli?

Shiraev dan Levy (2010) menyatakan bahwa budaya adalah satu bagian utuh yang terdiri dari sikap, perilaku, dan simbol-simbol yang dimiliki bersama oleh manusia dan dikomunikasikan dari generasi ke generasi berikutnya.1

Seorang antropolog, C. Kluckholn, menguraikan unsur-unsur kebudayaan yang dianggap sebagai Kebudayaan Universal, seperti: (1) peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, transportasi, dan lainnya), (2) sistem ekonomi (pertanian, sistem produksi, dan lainnya), (3) sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, politik, hukum, perkawinan, adat, dan lainnya), (4) bahasa lisan atau tertulis, (5) kesenian, (6) sistem pengetahuan, dan (7) kepercayaan atau keagamaan.2

Korupsi di Indonesia sudah masuk ke dalam sistem kemasyarakatan sejak masa penjajahan kolonial hingga masa reformasi. Hal ini membuat korupsi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial. Budaya mengatur manusia dalam bertindak di kehidupan sosial. Tindakan tersebut berakar dari kebiasaan-kebiasaan individu dalam lingkungan sosial yang disepakati, diakui, atau dijadikan pedoman.3 Jika semua kebiasaan tersebut (terutama korupsi) menjadi pedoman dalam kehidupan sosial, hal ini akan berdampak ke norma atau sistem peraturan yang berlaku (adat/hukum).

Korupsi sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia di berbagai lapisan. Kita bisa melihat fakta-fakta di lapangan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia memuluskan suatu regulasi di pemerintahan/non-pemerintahan dengan membayar pegawai/pekerja/petinggi tanpa pandang status sosial, begitu juga sebaliknya dari pihak pemerintahan/instansi non-pemerintahan yang meminta “jatah” untuk melancarkan permasalahan administrasi. Hal ini membuktikan bahwa korupsi sudah menjadi budaya di setiap aspek kehidupan.

Menurut laporan tahunan Indeks Persepsi Korupsi 2016 dari organisasi non-pemerintah, Transparansi Internasional,  Indonesia memperoleh peringkat ke-90 dari 176 negara di dunia. Peringkat ini sedikit mengecewakan karena sebelumnya Indonesia berada di peringkat ke-88. Kekecewaan masyarakat juga makin bertambah karena situasi politik mengganggu kinerja KPK untuk memberantas korupsi semakin masif dengan akan membuat regulasi baru. Pasti, regulasi ini mengganggu langkah KPK untuk menciduk para koruptor. Semua organisasi pengamat korupsi Indonesia dan masyarakat juga memantau dan mengkritik regulasi yang akan berhubungan dengan KPK ini.

Budaya terkait dengan kebiasaan masyarakat. Kebiasaan tersebut sangat sulit diubah dengan waktu singkat. Pernyataan tidak setuju dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang membudayanya korupsi di masyarakat adalah hal normal. Hal ini membuktikan ada sedikit masyarakat dan instansi pemerintahan/non-pemerintahan yang peduli dengan nasib bangsa Indonesia. Suatu hal yang besar dimulai dengan langkah kecil di awal.

Ada sangat banyak keuntungan yang diperoleh jika budaya korupsi berkurang atau bahkan hilang. Anggaran pembangunan negara akan teralokasi secara efektif dan efisien ke banyak program pemerintah tanpa “potongan” anggaran manipulasi dari para koruptor. Hal ini akan berdampak pada aspek ekonomi, sosial, budaya, bahkan keamanan.

“In too many countries, people are deprived of their most basic needs and go to bed hungry every night because of corruption, while the powerful and corrupt enjoy lavish lifestyles with impunity.”   – José Ugaz, Chair of Transparency International

Hilangnya korupsi akan mempercepat perekonomian negara dalam jangka panjang. Para investor akan menanamkan modalnya di Indonesia karena akses infrastruktur, keadaan politik, dan regulasi semakin terbuka dan stabil. Hasilnya juga akan berdampak positif di aspek sosial dan keamanan nasional, seperti semakin banyak lapangan pekerjaan, semakin sedikit tingkat kemiskinan/kelaparan, semakin stabil tingkat keamanan, dan sebagainya. Hal ini juga berpengaruh ke budaya bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Back to Home

Ditulis Oleh : Reza Pahlevi

9 tanggapan untuk “Lestarikan Budaya Korupsi Sejak Dini!”

  1. Semakin banyak tontonan drama korupsi akhir-akhir ini,
    Warna merahnya agar bisa dinetralisir biar menjadi agak sedikit putih tidak mungkin hanya lewat kinerja KPK aja ya. Semoga bapak-bapak yg terhormat dan jadi pemimpin ga khilaf mulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s