Sosial

Teroris bukan orang gila

Kegagalau.com – Banyak para ahli di Indonesia mempunyai dugaan keliru tentang pelaku bom bunuh diri. Mereka menyatakan bahwa pelaku bom bunuh diri mengalami gangguan jiwa. Padahal tidak semua pelaku bom bunuh diri adalah “gila”. Sarwono menyatakan bahwa pelaku Bom Bali I tidak ada indikasi gangguan/penyakit jiwa, bahkan kelainan kepribadian.1

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, dan biasanya bertujuan untuk kepentingan politik. Kesalahan dunia barat yang menganggap Islam itu teroris adalah salah besar. Islam malah menjadi paham yang tidak menimbulkan rasa takut dan kekerasan di berbagai budaya, contohnya Islam Nusantara. Hanya beberapa “sampah” saja yang menafsirkan ajarannya sendiri secara membabi buta di situasi/kondisi yang salah. Mereka sama saja seperti penjahat, bukan “jihadis” yang sesungguhnya.

Kekeliruan dalam dugaan gangguan jiwa atau kelainan pribadi terjadi dalam kasus Abu Fida (AF) yang didiagnosis sebagai penderita Schizophrenia. Menurut Shiraev & Levy (2010) menyatakan bahwa penderita Schizophrenia itu sendiri adalah gangguan psikologis yang memiliki karakteristik munculnya delusi, halusinasi, pembicaraan/perilaku yang ngawur.2 Tetapi, Sarwono tak menemukan satupun indikasi Schizophrenia. AF justru banyak senyum, berbicara beraturan/logis, dan tidak ngawur. Kemungkinan tanda-tanda Schizophrenia muncul di saat banyaknya tekanan dari berbagai pihak sehingga berbicara tak beraturan, depresi, dan berhalusinasi sesaat.3

Kesalahan diagnosis selanjutnya adalah penyamaan teroris dengan psikopat. Seorang pakar psikiater, Dr. Robert Hare, dalam masalah psikopat telah mengembangkan 20 kriteria kepribadian psikopat. Video klip tentang pengakuan tiga orang pelaku bom bunuh diri dari Bom Bali II menunjukkan kesalahan diagnosis tersebut.

Menurut Sarwono, mereka seperti orang normal pada umumnya dalam rekaman tersebut. Mereka menunjukkan rasa empati, ekspresi emosional yang normal, bertanggung jawab/mencintai keluarganya, berbicara sopan, cenderung menghindari perkataan kasar, dan belum pernah terlibat dalam catatan kriminal di kepolisian. Oleh karena itu, pelaku bom bunuh diri tersebut tidak dikategorikan psikopat berdasarkan 20 Kriteria psikopat dari Dr. Robert Hare.4

Hal penting yang perlu dicatat bahwa teroris terbagi dalam dua tipe menurut Sarwono. Pelaku bom bunuh diri hanyalah tim pelaksana misi yang direkrut dari para pemuda yang minim nilai, identitas diri, atau ingin melarikan diri dari lingkungan yang membuat stres. Justru, aktor utama dalam merancang strategi pemboman adalah para intelektual yang memanfaatkan para pemuda yang tersesat tersebut dari belakang layar.

Pernyataan Sarwono memang benar. Kita bisa melihat kasus teroris yang dilakukan orang intelektual seperti Osama bin Laden, Dr. Ashari, Nurdin M. Top, James Ellison, dan lainnya. Mereka merekrut orang-orang untuk melancarkan aksi mereka dengan iming-iming surga, tetapi mereka sendiri tidak mau ikut pergi ke surga melalui aksi mereka. Teroris jenis inilah yang banyak memenuhi kriteria psikopat yang diajukan Dr. Robert Hare.5

Beberapa ahli menekankan proses seseorang untuk menjadi penjahat. Semua pihak pasti setuju memasukkan teroris sebagai bentuk kejahatan. Proses seseorang terlibat dalam kejahatan biasanya berasal dari imitasi (meniru) seorang sosok sebagai konsep diri, dan kecewa dalam lingkungan sosial.6 Bagaimana calon-calon teroris atau pelaku bom bunuh diri direkrut?

Calon teroris harus pemuda-pemuda yang berusia 15 hingga 25 tahun, mengalami disorientasi, dan terisolasi dari lingkungan. Dengan kata lain, mereka yang polos dengan jiwa kosong dan pencarian jati diri. Selanjutnya, Ideologi agama yang radikal diajarkan melalui diskusi secara masif dan memaksa. Perilaku-perilaku kejahatan dipelajari secara intim.7

Dengan keadaan jiwa yang labil dan kosong, calon-calon teroris bakal cepat menerima semua paham radikal dengan cepat tanpa dapat berpikir kritis. Kondisi ini juga membuat mereka hanya mempercayai paham radikal tersebut adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak di bumi ini. Alat-alat komunikasi (buku, surat kabar, film, televisi, radio) dijauhkan untuk memberikan pengaruh besar tentang pola perilaku jahat.

Pada akhirnya, para calon teroris diasingkan secara total dari dunia luar, dan bahkan keluarga korban sendiri. Sarwono juga mengatakan bahwa mereka akan ditemani oleh seseorang yang bertanggung jawab selama 24 jam sampai jadwal eksekusi bom. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi calon teroris berubah pikiran sebelum aksi.8

Untuk mengatasi kejahatan tersebut, teknik rehabilitasi dan preventif sangat dianjurkan. Teknik preventif sangat baik dilakukan oleh keluarga ataupun lingkungan sekolah. Pihak-pihak terkait harus memberikan edukasi dan menuntun anak-anak/remaja melakukan kegiatan positif sesuai kemampuan/bakat mereka. Keterbukaan komunikasi kepada anak akan menangkis semua perilaku negatif yang ada. Anak-anak/remaja tersebut akan menemukan jati diri mereka dan tidak terisolasi dengan lingkungan sekitar.

Teknik rehabilitasi dilakukan untuk para pelaku kriminal, khususnya teroris. Namun, Cassey mengatakan bahwa ada 2 bentuk rehabilitasi.9 Bentuk pertama adalah negara menciptakan sistem untuk menghukum. Menghukum (atau menghukum mati) saja tidak efektif untuk mengatasi kejahatan, apalagi teroris. Yang efektif adalah bentuk kedua, yakni hukuman lebih ditekankan agar pelaku kejahatan menjalani hukuman, namun tetap melakukan konsultasi psikologis. Setelah itu, pelaku kejahatan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan bahkan melatih mereka agar berubah dan membantu masyarakat secara positif.

Back to Home

Ditulis Oleh : Reza Pahlevi

15 tanggapan untuk “Teroris bukan orang gila”

  1. TERORIS BUKAN ORANG GILA.?! TAPI ISIS BERDASARKAN KEBODOHAN MENURUT PERINTAH TUHAN YANG TIDAK PUNYA BERPERIKEMANUSIAAN., YANG MENURUNKAN SURAT AL MAIDAH AYAT (44)..DAN SURAT AT – TAUBAH AYAT (5)..???!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s