Budaya, Sosial

Ketidakpedulian, Akar dari Kerusuhan

Kegagalau.com – Berita tentang isu kesalahpahaman selalu kita dapatkan dalam lingkungan sekitar. Isu tersebut tersebar di berbagai media sosial. Sebagai contoh, kasus perusahaan tambang Cina tentang pelarangan ibadah Shalat Jumat di Sulawesi Tengah pada tahun 2017, dan kerusuhan pekerja PT Drydocks World Graha di Batam pada tahun 2010 yang disebabkan oleh pernyataan kasar pengawas asal India. Sebenarnya kita dapat mengambil pelajaran dari kasus tersebut. Namun, Bagaimana cara kita mengambil pelajaran dari konflik tersebut? 

Etika dan Orientasi Nilai Budaya

Pertama, kita harus mendefinisikan pengertian etika itu sendiri. Etika erat kaitannya dengan perbedaan orientasi nilai budaya. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam proses komunikasi. Permasalahan justru terletak saat mempersepsikan etika dalam orientasi nilai budaya yang berbeda.

Verderber (1978) menyatakakan bahwa etika adalah standar moral yang mengatur perilaku kita tentang bagaimana kita bertindak dan mengharapkan orang lain bertindak.¹

Dari pernyataan Verderber, etika dinyatakan sebagai sebuah standar tentang tindakan kita apakah pantas atau tidak pantas dalam ruang sosial. Hal ini menjadikan standar tersebut tidak dapat dijadikan acuan yang bersifat universal. Proses pembuatan standar tersebut terbatas oleh sekat-sekat budaya dan waktu yang berlainan. Sebagai contoh, ciuman pipi sebagai sapaan adalah hal wajar dalam budaya Prancis, tetapi hal ini sangat tidak pantas dalam etika di budaya Timur Tengah. Begitu juga dengan mengantongi kartu nama secara langsung tanpa memperhatikan detail kartu, dapat menyinggung perasaan orang Jepang. 

Kesalahpahaman dalam perbedaan etika di berbagai nilai budaya tidaklah lebai. Ketidakpekaan seseorang dalam memahami nilai-nilai budaya sekitar dapat menciptakan konflik. Kasus Pelarangan Shalat Jumat di Sulawesi Tengah oleh pekerja asing asal Cina menyentuh aspek pelanggaran Hak Asasi Manusia tentang kepercayaan dan nilai budaya. Hal yang sangat aneh jika melarang kebiasaan warga lokal untuk melakukan ibadah di wilayah budaya sendiri oleh orang asing. Tindakan pekerja asal Cina tersebut menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap budaya lokal dan menciptakan konflik dengan lingkungan sekitar.

Pemahaman Bahasa Verbal

Selanjutnya, pemahaman tentang bahasa verbal harus ditekankan. Bahasa verbal di sini lebih menekankan simbol pesan yang disampaikan secara tata bahasa melalui lisan ataupun tulisan. Kerusuhan yang terjadi di PT Drydocks World Graha dapat dijadikan contoh kekuatan bahasa verbal dalam memancing konflik. 

Menurut Ikbal yang dikutip dari BBC sebagai Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia pada saat itu, menyatakan bahwa konflik ini adalah hasil akumulasi permasalahan tentang tekanan kerja, upah kecil, dan sikap ketidakpedulian pemerintah. Pernyataan pengawas asal India dengan kalimat betapa bodohnya orang Indonesia, membuat situasi menjadi memanas dan akhirnya menciptakan kerusuhan. Seharusnya pekerja asing asal India tersebut rutin melakukan interaksi dengan santai dan lembut karena tekanan pekerjaan dan upah kecil adalah hal sensitif. Penggunaan bahasa verbal yang tidak tepat dapat memicu konflik.

Pemahaman Bahasa Nonverbal

Terakhir, bahasa nonverbal selayaknya menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan interaksi. Komunikasi nonverbal didefinisikan sebagai cara seseorang berkomunikasi tanpa kata-kata dan lebih menekankan tekanan suara, sentuhan, gestur tubuh, ekspresi wajah, pakaian, pengendalian emosi, penggunaan waktu, dan tanda-tanda nonverbal lainnya. Berkomunikasi dalam bahasa nonverbal biasanya digunakan untuk mengungkapkan emosi, sikap, sifat kepribadian, dan budaya itu sendiri.² 

Richard Lewis (1996) mengisyaratkan bahwa manajer abad ke-21 yang sukses adalah mereka yang peka dengan budaya.³

Kesuksesan dalam berkomunikasi lintas budaya bukan mitos belaka. Strategi dalam mengatasi perbedaan budaya ini dapat membuat komunikasi tersebut menjadi lebih efektif dengan mengurangi potensi kesalahpahaman (persepsi, nilai, norma, bahasa, dll) dalam lingkungan multikultural. Jika komunikasi terjalin secara efektif, maka keuntungan secara sosial dan finansial akan didapat dalam jangka pendek maupun panjang.

Back to Home

Ditulis oleh : Reza Pahlevi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s